yayasan kemitraan indonesia sehat

HIV atau human immunodeficiency virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh  manusia. Akibatnya, pengidap virus ini akan dengan sangat mudah terinfeksi virus dan penyakit lainnya. Virus ini menyebar melalui kontak dengan cairan kelamin orang dengan HIV melalui hubungan seks berisiko, seperti berhubungan tanpa kondom, dan melalui jarum suntik yang digunakan secara bersama-sama.

HIV pertama kali ditemukan pada tahun 80-an ketika beberapa rumah sakit di Amerika Serika menerima beberapa pasien yang dianggap ‘tidak biasa’. Pasien-pasien ini didiagnosis penyakit paru-paru bernama pnyemocystic carinii pneumonia (PCP). Di periode waktu yang sama, ditemukan juga pasien dengan kanker agresif yang tak biasa bernama kaposi’s sarcoma. Penyakit ini dianggap tak biasa karena pada umumnya penyakit ini hanya menimpa anak-anak dan dianggap tak berbahaya karena sistem kekebalan tubuh manusia mampu dengan mudah melawan penyakit ini. Penyakit ini pun dianggap sebagai ‘penyakit misterius’.

Pasien-pasien ini kemudian diobservasi lebih lanjut. Para peneliti menayngka penyakit ini disebabkan oleh disfungsi pada rantai sel kekebalan atau cellular-immune pada tubuh. Namun, lebih lanjut ditemukan bahwa pasien-pasien ini tidak memiliki sistem kekebalan tubuh sama sekali. 

Sejak saat itu, dilakukan berbagai penelitian untuk mencari tahu asal muasal ‘penyakit misterius’ ini karena penyakit ini semakin mewabah dan telah ditemukan di berbagai wilayah dunia. Pada pertengahan tahun 1980-an ditemukan bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh pengidapnya. Virus ini mampu menginfeksi dan menyerag sel CD4 hingga virus ini dapat bereplikasi dalam tubuh secara masif. Virus ini yang kemudian dikenal sebagi virus human immunodeficiency virus yang dikenal sekarang dan hingga kini belum ditemukan vaksi dan obat yang dapat menghilangkan HIV dalam tubuh sepenuhnya.

Ilmuwan sudah mencoba mengembangkan vaksin HIV

Dari mulai ditemukannya kasus HIV pertama kali, para peneliti telah menyadari bahwa mengembangkan vaksin HIV yang efektif merupakan sebuah tantangan. Hingga kini telah dilakukan banyak penelitian terkait pengembangan virus HIV dan telah banyak pula kegagalan yang dilalui. Seringkali kemajuan yang ditemukan diiringi dengan kemunduran efektivitas vaksin. Maka dari itu, hingga kini masih belum ada vaksin dan obat penangkal dari virus HIV.

Di samping itu, para ilmuwan beberapa tahun ke belakang telah membuat langkah yang besar dengan melakukan penelitian terhadap dinamika rumit dari HIV dan respon tubuh terhadap infeksinya. Melihat hal itu, ilmuwan percaya bahwa vaksin HIV mungkin bisa ditemukan dalam 15 tahun mendatang. Vaksin ini diharapkan mudah terjangkau, aman, dan bisa didistribusikan kepada seluruh masyarakat dunia, namun yang harus segera diselesaikan adalah kunci-kunci penghalang yang membuat vaksin ini sulit untuk dikembangkan. 

Virus HIV adalah virus yang rentan bermutasi

Salah satu faktor penghambat dalam mengembangkan vaksin dan obat penangkal virus HIV adalah keragaman genetik virus itu sendiri. Siklus replikasi virus HIV dalam tubuh berlangsung dengan sangat cepat dan juga sangat mudah bermutasi menjadi jenis baru ketika virus ini ditularkan. Hal ini disebabkan karena virus ini bukanlah RNA biasa. 

Sebagaimana pada umumnya, dilansir dari Tirto, virus HIV tersusun dari untaian RNA atau ribonucleci acid atau asam ribonukleat yang merupakan turunan dari molekul asam nukleat. Zat ini berfungsi untuk menyimpan kode genetik untuk diwariskan kepada keturunannya. RNA virus HIV masuk ke dalam kategori retrovirus yang mana memiliki kemampuan reverse transkriptase. Kemampuan ini membuat virus dapat mengubah RNA sebagai tempat penyimpanyan kode genetik menjadi DNA diri inang yang dihinggapi. Akibatnya, ketika virus menginfeksi tubuh manusia, virus mampu bereplikasi secara masif dan dapat meniru DNA inangnya. Dengan kemampuan bereplikasi dan bermutasi dengan sangat cepat, vaksin yang sedang dikembangkan tidak mampu melindungi tubuh dari semua strain virus HIV yang berkembang.

Berkaca dari itu semua, terlihat bahwa sangat dibutuhkan strategi multi-pronged karena pendekatan tunggal tidak akan mampu membantu mengembangkan vaksin HIV yang efektif. Dikutip dari Very Well Health, komponen-komponen strategi yang dibutuhkan di antaranya;

  • Cara untuk menetralisir genetika strain HIV yang bervariasi
  • Cara untuk menciptakan respon imun tubuh untuk perlindungan diri
  • Cara untuk menjaga sistem kekebalan tubuh
  • Cara untuk membersihkan dan membunuh latensi virus

Salah satu tantangan terbesar dalam mengembangkan vaksin HIV lainnya adalah kemampuan virus menciptakan latent reservoirs untuk menghancurkan imun tubuh dengan dengan sangat cepat. Latent reservoirs HIV adalah sekumpulan sel sistem imun dalam tubuh yang telah terinfeksi virus HIV tetapi belum secara aktif memproduksi virus baru. Hingga kini, para ilmuwan masih belum sepenuhnya yakin seberapa besar reservoirs ini atau seberapa besar potensi menyebabkan viral rebound.Dalam hal ini, para ilmuwan sedang melakukan upaya terbaiknya untuk mencari cara menciptakan vaksin virus HIV yang efektif. Telah dilakukan banyak trial and error yang dialami. Namun, hingga kini vaksin dan obat penangkal yang aman dan efektif masih belum bisa ditemukan. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk terhindar dari penularan virus HIV adalah dengan melakukan tindakan pencegahan. Selalu hindari diri dari aktivitas seksual yang berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bersamaan, dan selalu lakukan tes HIV sedini mungkin.