yayasan kemitraan indonesia sehat

UNAIDS mencatat bahwa terdapat 37,7 juta orang di dunia yang mengidap HIV di tahun 2020. Namun, WHO mengestimasikan bahwa masih banyak orang yang masih belum mengetahui status HIV positif mereka. Hanya sekitar 75% orang dengan HIV yang telah mengetahui status HIV mereka. Padahal, pengetahuan masyarakat akan status HIV mereka mau pun status pasangan mereka sangatlah penting dalam menanggulangi wabah HIV-AIDS. Maka dari itu, dibutuhkan peningkatan jumlah skrining HIV di berbagai negara, khususnya negara-negara yang memiliki akses yang rendah akan pengobatan dan penanggulangan HIV-AIDS. Berbagai pendekatan telah dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya adalah dengan mengadakan tes HIV mandiri. 

Manfaat Tes HIV Mandiri

Tes HIV Mandiri atau HIVST (HIV Self-testing) mengacu pada proses pengambilan sampel cairan tubuh (air liur atau darah) untuk melakukan dan mendapatkan hasil tes HIV yang dilakukan secara mandiri tanpa perlu pergi ke fasilitas kesehatan. Seperti pada pendekatan tes HIV pada umumnya, tes HIV mandiri harus dilakukan secara sukarela tanpa paksaan. Tes ini dapat dijadikan sebagai langkah efektif dalam meningkatkan skrining HIV di masyarakat dan dapat membantu masyarakat untuk mengetahui HIV status mereka di mana pun dan kapan pun mereka mau. Metode ini sangat mudah, cepat, dan privat sehingga mempercepat skrining HIV daripada ketika masyarakat harus datang ke fasilitas kesehatan. Selain itu, metode ini juga membantu mengurangi ketakutan akan stigma bagi mereka yang ingin melakukan tes HIV di fasilitas kesehatan karena memberikan kebebasan untuk melakukan tes secara anonim, rahasia, dan privat. Dengan begitu, metode ini diharapkan dapat menjangkau kelompok masyarakat yang masih belum terjangkau oleh pelayanan HIV-AIDS. 

Selain membantu skrining HIV di masyarakat, metode tes HIV mandiri pun dapat membantu pekerjaan penyedia layanan kesehatan. Dengan mengadakan program tes HIV mandiri, layanan-layanan kesehatan yang memiliki sumber daya yang sedikit bisa terbantukan karena orang-orang yang datang untuk melakukan tes adalah orang-orang yang telah mendapatkan hasil positif pada tes mandiri. Percepatan skrining HIV pun bisa dilakukan dengan mudah. Hal ini sangat membantu negara-negara miskin dan berkembang dalam menanggulangi penyebaran HIV-AIDS di negara masing-masing. 

Jenis-jenis tes HIV Mandiri

Home Access HIV-1 Test System

Tes ini membutuhkan sampel setetes darah yang kemudian diteteskan ke atas kertas khusus. Kertas ini kemudian dikirimkan ke laboratorium untuk dilakukan tes. Pengirim harus menunggu sekitar seminggu sebelum diberikan hasil tes. Meski harus mengirim sampel ke laboratorium, pengirim dapat menggunakan identitas secara anonim sehingga kerahasiaan terjaga. Pengirim juga akan ditawarkan konseling jika dibutuhkan. Tes ini dipercaya sangat efektif karena alat ini mampu mendeteksi antibodi HIV dalam darah dengan akurasi sebesar 99%. 

OraQuick In-Home HIV Test

Berbeda dengan tes sebelumnya, tes kit ini hanya membutuhkan sampel air liur untuk melihat antibodi HIV di dalam tubuh. Caranya adalah dengan mengusap gusi bagian atas dan bawah menggunakan stik khusus. Stik itu kemudian dimasukkan ke dalam cairan yang terdapat di dalam kit, dan tunggu 20 hingga 40 menit untuk mendapatkan hasilnya. Meski terlihat lebih simpel, hanya saja tes ini tidak seakurat Home Access HIV-1 Test System karena hanya memiliki tingkat akurasi 92% saja. Namun, OraQuick jarang memberikan hasil false positive, yang berarti jarang memberikan hasil positif jika kita mengidap HIV. Tes ini disarankan oleh parah ahli hanya untuk pengetahuan tes awal saja. Dibutuhkan tes kedua di fasilitas kesehatan untuk memastikan kembali hasil yang didapat dari OraQuick.

Jika mendapatkan hasil negatif meski memiliki risiko paparan HIV yang cukup tinggi, disarankan untuk melakukan tes kembali beberapa bulan kemudian karena tubuh memerlukan waktu 3 hingga 6 bulan untuk menciptakan antibodi HIV. Masa ini yang disebut sebagai masa jendela.