yayasan kemitraan indonesia sehat

Salah satu faktor yang menghambat upaya penanggulangan wabah HIV-AIDS adalah tingginya stigma dan diskriminasi di masyarakat. Sejak virus HIV pertama kali ditemukan hingga sekarang, sudah banyak penelitian yang terbukti mampu mematahkan mitos-mitos terkait HIV-AIDS. Meski demikian, stigma dan diskriminasi masih tetaplah ada. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kesejahteraan hidup orang dengan HIV-AIDS (ODHA) dan penanggulangan wabahn itu sendiri.

Apa itu stigma terhadap HIV?

Stigma adalah pandangan dan prasangka negatif terhadap karakteristik dan kondisi kelompok tertentu. Biasanya, stigma akan mengarah pada diskriminasi terhadap kelompok dengan karakterisitik dan kondisi tertentu tersebut. 

Stigma terhadap HIV sudah ada sejak virus HIV pertama kali ditemukan di tahun 1980-an, ketika AIDS mewabah di Amerika Serikat. Stigma muncul akibat adanya pandangan bahwa AIDS merupakan penyakit yang diakibatkan oleh perilaku tidak sehat dan tidak bermoral. Hal ini tentunya memunculkan kesalahpahaman mengenai HIV di masyarakat dan kemudian dijadikan alat pembenaran atas stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV-AIDS. Hingga kini, stigma ini masih terlihat pada sikap, ketakutan yang berlebihan, dan prasangka buruk di masyarakat. 

Ketakutan berlebihan dan prasangka negatif mampu menimbulkan misinformasi yang mana akan mengarah pada munculnya kesalahpahaman-kesalahpahaman baru. Hal ini tentunya dapat memperburuk stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV-AIDS. Akibatnya, banyak orang dengan HIV-AIDS yang mendapatkan perlakuan tidak adil di ruang lingkup sosial. Pemotongan akses terhadap layanan publik, isolasi sosial, dan penyebarluasan status HIV tanpa persetujuan merupakan sebagian dari bentuk diskriminasi yang dialami oleh orang dengan HIV-AIDS. 

Stigma berdampak pada penanganan wabah HIV

Stigma HIV di masyarakat memiliki dampak yang besar dalam pencegahan dan penanganan wabah HIV di masyarakat. Akibat stigma, banyak populasi berisiko yang akan merasa enggan untuk melakukan tes HIV karena rasa takut akan dikucilkan di masyarakat. Selain itu, orang dengan HIV pun akan menutup-nutupi status HIV mereka kepada pasangan maupun kepada tenaga kesehatan. Hal ini tentunya dapat berpengaruh dalam penanganan wabah HIV karena dengan rendahnya testing dan ketiadaan keterbukaan, maka penularan HIV di masyarakat akan sulit terkontrol. Karenanya, jumlah kematian akan AIDS pun akan semakin tinggi. 

Stigma juga membuat masyarakat enggan bahkan untuk sekadar membicarakan HIV-AIDS. Padahal, keterbukaan masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS. Semakin masyarakat enggan membicarakan HIV-AIDS, maka akan semakin tabu untuk dibicarakan. Akibatnya miskonsepsi semakin membesar dan semakin meluas. Juga, pengetahuan masyarakat akan HIV-AIDS tidak akan bertambah. Hal ini justru akan memperparah situasi HIV-AIDS dan membuat situasi menjadi semakin tidak terkendali karena masyarakat tak acuh dan tidak waspada akan virus HIV. 

Edukasi merupakan faktor penting dalam penghapusan stigma HIV

Banyak faktor yang menyebabkan stigma HIV muncul di masyarakat, tetapi faktor paling besar adalah kurangnya pengetahuan masyarakat terkait HIV-AIDS. Ketidaktahuan merupakan salah satu faktor besar dalam munculnya stigma. Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa upaya pengurangan stigma HIV di masyarakat adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan edukasi mengenai HIV-AIDS. Orang yang sudah teredukasi dan memiliki pengetahuan akan HIV-AIDS cenderung lebih waspada dan tidak memberikan stigma terhadap orang dengan HIV-AIDS. 

Selain kurangnya pengetahuan, sikap negatif terhadap penularan HIV pun dianggap sebagai faktor yang bertanggung jawab atas munculnya stigma HIV di masyarkat. Anggapan bahwa HIV-AIDS merupakan azab atas perilaku tidak bermoral sangat berpengaruh terhadap bagaimana masyarat bersikap dan memandang HIV-AIDS. Kembali lagi, hal ini terjadi akibat rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai HIV-AIDS. Maka dari itu, kampanye edukasi kepada masyarakat harus dijadikan titik fokus dalam program penganggulangan wabah HIV-AIDS. Kampanye edukasi ini harus berfokus pada pengetahuan mengenai mekanisme penularan, pencegahan, dan infromasi faktul terkait HIV agar mitos-mitos penyebab munculnya stigma bisa dipatahkan.

Pemberian pengetahuan dan informasi terkait HIV harus dilakukan di tingkat keluarga. Ketidaktahuan akan HIV di tingkat keluarga tentunya dampak memperburuk stigma HIV di tingkat masyarakat. Dukungan di tingkat keluarga akan sangat berdampak pada kualitas hidup orang dengan HIV-AIDS karena bisa meningkatkan tingkat pemanfaatan layanan kesehatan mereka. Penanaman pemahaman yang benar mengenai HIV-AIDS sejak dini di lingkup keluarga akan sangat membantu upaya penanggulangan wabah HIV-AIDS.

HIV tidak semenakutkan dulu

Pelayanan perawatan dan pengobatan HIV telah meningkat daripada tahun 1980-an. Kini orang dapat dengan mudah mengetes diri mereka melalui layanan kesehatan yang mengadakan tes HIV. Selain itu, berkat ARV, orang yang telah terinfeksi virus HIV dapat melakukan aktivitasnya masing-masing dengan normal tanpa mengalami kendala kesehatan. Meski begitu, HIV masih berdampak pada jutaan orang di dunia. Bahkan, berdasarkan penelitan Centers for Desease Control and Prevention (CDC), penyebaran HIV masih menjadi masalah besar bagi berbagai negara di dunia. Hal ini terjadi akibat masih adanya stigma dan diskriminasi yang beredar di masyarakat. Maka dari itu, upaya kampanye edukasi harus semakin digencarkan sehingga pengetahuan masyarakat akan HIV meningkat. Perlu dilakukan pemberian informasi HIV-AIDS yang faktual dan lengkap agar miskonsepsi akan HIV-AIDS bisa diluruskan. Dengan begitu, stigma terhadap HIV yang ada di masyarakat pun bisa menurun. Seiring dengan menurunnya stigma, penanggulangan wabah HIV pun akan semakin mudah dilakukan.