yayasan kemitraan indonesia sehat

Hingga kini, HIV masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar. Pada tahun 2020, diperkirakan sekitar 37,7 juta orang hidup dengan HIV. Sekitar 16 persen dari angka itu, atau sekitar 6,1 juta orang, tidak tahu akan status HIV positif mereka. Jumlah angka ini masihlah terbilang sangat besar. Sejak wabah HIV dimulai pada tahun 1980-an, diestimasikan sekitar 79,3 juta orang telah terinfeksi HIV dan 36,3 juta orang lainnya telah meninggal karena AIDS. Di tahun 2020 sendiri, terdapat 680 ribu orang meninggal yang disebabkan oleh AIDS. Meski angka ini menurun dari tahun-tahun sebelumnya, namun angka ini masih belum cukup untuk mengatakan bahwa wabah ini telah terkendali.

Kebanyakan kasus HIV di dunia saat ini berfokus di wilayah-wilayah negara miskin dan berkembang. Hal ini disebabkan oleh buruknya fasilitas kesehatan dan ketidakmerataan akses kesehatan bagi semua masyarakat. Wilayah Afrika bagian timur dan selatan merupakan wilayah dengan paling banyak kasus HIV di dunia dengan jumlah sebesar 20,6 juta jiwa. WHO Regional Afrika menyebutkan bahwa 1 dari 25 orang dewasa di Afrika mengidap HIV. Angka ini menyebabkan wilayah Afrika mengambil persentase sebesar dua pertiga dari jumlah total kasus HIV di seluruh dunia. Wilayah kedua dengan jumlah pengidap HIV terbesar di dunia adalah wilayah Asia dan Pasifik dengan jumlah 5,8 juta jiwa, diikuti oleh wilayah Amerika bagian utara.

Mencapai target 90-90-90

Untuk menangani wabah HIV-AIDS di dunia, UNAIDS menciptakan strategi 90-90-90 pada tahun 2014. Target ini dibuat dengan harapan mampu mengurangi penularan dan penyebaran virus HIV di tahun 2020. Hal-hal yang ditargetkan dalam program ini antara lain;

– 90 persen orang dengan status HIV positif tahu status mereka;

– 90 persen orang dengan HIV mendapatkan akses terhadap ARV, dan;

– 90 persen orang dengan HIV yang mengonsumsi ARV memiliki viral load yang tidak terdeteksi.

Pada tahun 2020, program tersebut masih belum mencapai target. Dikatakan bahwa pada tahun 2019, 84 persen orang yang hidup dengan HIV telah mengetahui status HIV mereka dan sebanyak 73 persen dari orang yang hidup dengan HIV telah mendapatkan perawatan dan pengobatan yang memadai. Kemudian, 66 persen orang dengan HIV yang mendapatkan ARV memili viral load yang tidak terdeteksi. Meski tahun 2020 sudah berakhir, namun program ini harus tetap dilanjutkan untuk menekan angka penyebaran virus HIV sehingga wabah bisa lebih terkendali. 

Infeksi baru di tahun 2020

Angka penyebaran HIV di tahun 2020 memang lebih kecil daripada tahun-tahun sebelumnya. Sejak tahun 2010, jumlah infeksi HIV baru di dunia telah berkurang hingga 31%. Pada tahun diperkirakan terdapat 1,5 juta kasus infeksi HIV baru. Angka ini lebih sedikit  dari pada angka infeksi baru pada tahun 2010 silam yang mencapai 2,1 juta jiwa. Angka penyebaran HIV di kelompok anak pun berkurang hingga 53%, dari 320 ribu anak di tahun 2010 menjadi 150 ribu anak di tahun 2020. Meski angka itu menurun, tetap harus dilakukan upaya-upaya pengendalian wabah HIV secara maksimal. Salah satunya adalah dengan memberi edukasi dan meningkatkan skrining HIV di masyarakat. 

Pada tahun 2019, tercatat bahwa 65 persen penyebaran HIV berpusar pada kelompok kunci seperti pekerja seks dan pasangannya, pengguna narkotika suntik, transgender, dan laki-laki homoseksual. 35 persen sisanya berada di lingkup masyarakat biasa yang tidak berisiko tinggi terpapar HIV seperti kelompok perempuan muda. UNAIDS memperkirakan terdapat 5 ribu kasus infeksi baru terjadi setiap minggunya pada kelompok perempuan muda. Kelompok perempuan muda berusia 15 hingga 24 tahun terhitung memiliki persentase sebesar 25 persen dari jumlah total kasus HIV di dunia pada tahun 2020. Padahal, kelompok ini hanya merepresentasikan 10 persen dari jumlah populasi dunia secara keseluruhan. Hal ini diperparah dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Di beberapa wilayah, perempuan yang mengalami kekerasan seksual memiliki risiko cukup besar terpapar HIV. 

Penanganan

Pada tahun 2020, dikabarkan bahwa jumlah orang dengan HIV yang mendapatkan pengobatan dan perawatan yang layak telah meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya, khususnya ODHIV di wilayah negara-negara berpenghasilan rendah.  Sebanyak 27,5 juta orang dengan HIV telah menerima ART, angka ini meningkat sebesar 7,8 juta dari tahun 2010 lalu. Namun, angka ini masih belum cukup dari target global yang menargetkan 30 juta orang dengan HIV mendapatkan perawatan ART pada tahun 2020. 

Salah satu langkah penanganan wabah HIV adalah dengan meningkatkan upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Tahun lalu, terhitung 85 persen ibu hamil dan menyusui yang hidup dengan HIV telah mendapatkan akses terhadap ARV dalam rangka upaya mencegah penularan virus kepada bayi-bayi yang dikandung. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu yang hanya berjumlah 45 persen.