yayasan kemitraan indonesia sehat

Human immunodeficiency virus atau HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini merupakan penyebab kondisi acquired immunodeficiency sydrome atau yang dikenal sebagai AIDS. Berdasarkan penelitian, virus ini dipercaya berasal dari kelompok primata nonmanusia yang tersebar di wilayah Afrika barat dan tengah. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menciptakan sebuah teori yang mengatakan bahwa HIV bermula di wilayah Kinshasa, Kongo, pada tahun 1920-an ketika HIV menular dari simpanse ke manusia. Pada saat itu masyarakat Kinshasa gemar berburu simpanse untuk diambil dagingnya, kemudian penularan terjadi ketika darah simpanse yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi maupun melalui luka yang terbuka. Virus tersebut dinamai sebagai simian immunodeficiency virus atau SIV.

Masa 1980-an

Pada awal 1980-an, rumah sakit di Amerika Serikat melaporkan kasus penyakit paru-paru langka yang disebut sebagai pnyemocystic carinii pneumonia (PCP) pada lima orang laki-laki sehat. Dalam jangka waktu yang berdekatan, ditemukan pula pasien laki-laki dewasa dengan kanker agresif tak biasa yang disebut dengan kaposi’s sarcoma. Penyakit-penyakit ini mengherankan dunia medis pada saat itu karena penyakit ini hanya ditemui pada anak-anak. Penyakit ini dianggap tak berbahaya pada orang dewasa karena sistem kekebalan tubuh orang dewasa mampu dengan mudah melawan penyakit-penyakit tersebut.

Penyakit ini kemudian menjamur di kalangan laki-laki Amerika Serikat, khususnya di kelompok laki-laki homoseksual. Pada tahun 1982, kelompok laki-laki homoseksual di negara bagian South Carolina menyebutkan penyebab penyakit-penyakit immunodefisiensi ini adalah akibat berhubungan seks sesama jenis. Setelah itu, kemudian penyebab immunodefisiensi ini disebut dengan gay-relataed immune deficiency atau GRID. Penyebab penyakit ini masih dianggap misterius, namun kemudian CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS memutuskan untuk menggunakan istilah AIDS. 

Di tahun 1983, AIDS dilaporkan tercatat pada perempuan heteroseksual yang tertular dari pasangannya. AIDS juga ditemukan di kelompok anak-anak yang dipercaya tertular dari ibunya ketika proses melahirkan berlangsung. Hal ini membuka mata para peneliti bahwa AIDS bukan merupakan penyakit yang hanya menjangkit kelompok homoseksual. 

Peneliti terus berupaya untuk menemukan penyebab AIDS hingga salah seorang dokter dari Pasteur Institute di Perancis melaporkan bahwa telah ditemukan retrovirus baru yang disebut dengan lymphadenopathy-associated virus (LAV). Hal ini diperkuat juga setelah National Cancer Institute AS mengumumkan bahwa penyebab AIDS adalah retrovirus yang disebut dengan HTLV-III. Di pertengahan tahun 1980-an virus penyebab AIDS pun akhirnya ditemukan dan pada saat itu masih disebut dengan HTLV-III/LAV. Beberapa waktu kemudian di tahun 1986, Komite Internasional Taksonomi Virus mengumumkan secara resmi bahwa virus yang menyebabkan AIDS akan disebut sebagai HIV atau human immunodeficiency virus alih-alih HTLV-III/LAV.

Di akhir periode 80-an WHO mengestimasikan bahwa terdapat 5 hingga 10 juta orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia.  Untuk merespon hal tersebut, WHO merilis The Global Program on AIDS untuk meningkatkan kewaspadaan, mendorong kebijakan yang berbasis riset, membentuk bantuan finansial kepada negara-negara yang terdampak, dan mengkampanyekan hak-hak orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Pada tahun 1988, WHO pun menetapkan 1 Desember sebagai Hari AIDS Sedunia.

Masa 1990-an

Situasi wabah HIV-AIDS di awal tahun 1990-an masihlah belum membaik. Di awal tahun 1991 tercatat terdapat 370.000 kasus AIDS dengan estimasi jumlah aktual sudah mencapai satu juta kasus. Menanggapi hal ini, Visual AIDS Artists Caucus meluncurkan Proyek Pita Merah sebagai simbol dukungan bagi orang-orang yang hidup dengan HIV. Peta Merah ini kemudian dijadikan simbol internasional untuk kesadaran akan AIDS dan masih digunakan hingga kini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengizinkan penggunaan highly active antiretroviral treatment (HAART) sebagai proses penyembuhan dan perawatan orang-orang dengan HIV-AIDS pada saat itu. HAART ini merupakan cikal bakal dari ART atau antiretroviral treatment yang digunakan pada saat ini. Begitu HAART diaplikasikan, kematian yang disebabkan oleh AIDS di pertengahan 90-an menurun sebesar 60% hingga 80%. 

Untuk merespons dan mengadvokasi wabah HIV di negara-negara anggota PBB, PBB menciptakan United Nations Programme on AIDS atau yang lebih dikenal sebagai UNAIDS. UNAIDS hingga kini masih aktif dalam berkampanye dan mengedukasi masyarakat terkatit tentang HIV-AIDS. UNAIDS pun menyebutkan bahwa AIDS merupakan penyebab kematian di dunia terbesar keempat dan merupakan penyebab kemarian paling utama di Afrika. Diperkirakan terdapat 33 juta orang hidup dengan HIV dan 14 juta orang telah meniggal karena AIDS sejak wabah HIV-AIDS muncul di awal tahun 1980-an hingga akhir periode 1990-an. 

Masa 2000-an

Meski terapi perawatan HIV-AIDS telah ditemukan, wabah HIV-AIDS masih belum terlihat membaik. Orang-orang yang hidup dengan HIV dan meninggal karena AIDS semakin bertambah jumlahnya. Negara yang terdampak pun semakin banyak. Di awal masa 2000-an banyak negara berkembang yang mengalami kewalahan dalam membayar obat antiretroviral. Untuk merespons hal ini, World Trade Organization (WTO), pada bulan November 2001, mengumumkan Deklarasi Doha yang mengizinkan negara-negara berkembang untuk membuat obat-obatan sendiri untuk melawan masalah-masalah kesehatan publik termasuk di dalamnya HIV. 

Di periode ini pun kondisi negara-negara Sub-Sahara Afrika semakin memprihatinkan akibat mahalnya obat-obatan dan perawatan HIV-AIDS. UNAIDS melaporkan bahwa kasus kematian akibat AIDS di dunia paling banyak berasal dari wilayah Sub-Sahara Afrika. 

Pada tahun 2007, WHO dan UNAIDS mengeluarkan pedoman baru yang mengharuskan konseling dimasukkan ke dalam tes HIV. Kebijakan ini didorong untuk meningkatkan pengetahuan mengenai status HIV dan mengenai tindakan pengobatan dan pencegahan HIV. Konseling ini masih terus dilakukan hingga kini dan dimasukkan ke dalam rangkaian VCT.

Masa Kini

Sudah banyak kemajuan di bidang pengetahuan dan teknologi dalam upaya pemberantasan wabah HIV-AIDS. Namun, kemajuan ini masih belum bisa dinikmati oleh seluruh kalangan di seluruh dunia. Hal ini terlihat dari masih banyakanya jumlah pengidap HIV dan kematian akibat AIDS. Berdasarkan data UNAIDS tahun 2018, diperkirakan sebanyak 38 juta orang mengidap HIV dengan kasus kematian akibat AIDS berjumlah 770.000 jiwa. Untuk menghapus wabah HIV-AIDS masih dibutuhkan uluran tangan semua pihak. UNAIDS menggalakan kampanye zero HIV infections, zero discrimination, and zero AIDS-related deaths, yang berarti bebas infeksi HIV, bebas diskriminasi, dan bebas kematian akibat AIDS. Menghapuskan ketidakseteraan dan stigma merupakan salah satu langkah kunci dalam memutus rantai penyebaran HIV di masyarakat.