Peresmian Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Dr. Anung Sugihantono, MKes meresmikan berdirinya Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) pada sebuah acara sarasehan di Jakarta, 15 Mei 2018. Dalam sambutannya, Dr. Anung menyambut baik kehadiran YKIS sebagai sebuah lembaga yang diharapkan menjadi bridging antara pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan dalam upaya preventif dan promotif kesehatan, khususnya penanggulangan HIV-AIDS dan TB di Indonesia. Merujuk Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2018, HIV-AIDS adalah salah satu dari 12 jenis pelayanan dasar yang masuk dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM) Bidang Kesehatan. YKIS diharapkan menjadi mitra positif pemerintah dalam mendorong Pemda menyediakan sumber daya  yang memadai dalam mencapai target SPM Bidang Kesehatan, khususnya layanan HIV-AIDS.

KEMITRAAN UNTUK KEBERHASILAN PENANGGULANGAN HIV-AIDS DI INDONESIA

Peresmian Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Ketua Dewan Pembina YKIS, menyampaikan bahwa pada High Level Meeting of the General Assembly on HIV/AIDS di Markas Besar PBB, New York, 9 Juni 2016, Menteri Kesehatan RI telah menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berupaya menanggulangi HIV-AIDS. Dr. Mboi menegaskan bahwa komitmen tersebut telah dilaksanakan pemerintah bersama civil society melalui berbagai langkah aksi di lapangan. Meski demikian, masih terdapat tantangan serius antara lain dengan dihapusnya Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) sesuai Peraturan Presiden Nomor 124 tahun 2016 yang berakibat melemahnya koordinasi stakeholders di daerah dalam penanggulangan HIV-AIDS. Selain itu, Dr. Nafsiah mengingatkan bahwa keberhasilan upaya akses pengobatan AIDS, terutama bagi komunitas kelompok kunci saat ini, merupakan hal yang patut disyukuri. Namun, ujarnya, kita tak boleh lengah untuk tetap memprioritaskan upaya pencegahan penularan HIV termasuk ke kalangan ibu rumah tangga. “YKIS hadir untuk menutupi gap atau bolong-bolong yang masih ada untuk mencapai keberhasilan bersama penanggulangan HIV-AIDS di tanah air,” tandas Dr. Nafsiah Mboi.

Ketua YKIS, Prof. Irwanto, PhD menjelaskan YKIS berfokus membangun upaya kemitraan  dalam   peningkatan kemampuan  dan peran organisasi kemasyarakatan di bidang preventif dan promotif kesehatan, khususnya HIV-AIDS dan TB. Dalam struktur kepengurusan YKIS, terdapat para praktisi senior kesehatan masyarakat, antara  lain  Prof.  dr. Samsuridjal Djauzi,  Prof. dr. Zubairi Djoerban,  Prof. dr. Tuti Parwati,  yang pernah menjadi tulang punggung keberhasilan Konferensi Internasional AIDS se-Asia Pasifik ke-9 di Bali tahun 2009. Kegiatan jangka pendek YKIS berupa menyelenggarakan pertemuan nasional, pemberian dukungan dana bagi organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah di Indonesia untuk menjalankan intervensi yang kreatif dan terukur, penelitian, ataupun  pengembangan aplikasi untuk mendukung pencapaian tujuan program. Kegiatan lainnya, berupa pelatihan peningkatan kapasitas organisasi kemasyarakatan dalam mengembangkan program yang kreatif dan inovatif, serta mengembangkan usaha-usaha untuk kesinambungan lembaga.

Acara sarasehan dan launching YKIS tersebut dihadiri 60 orang peserta dari kalangan pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, populasi kunci, orang yang terinfeksi HIV, tenaga kesehatan, akademisi/peneliti, serta lembaga donor/mitra internasional. Dalam diskusi yang dipandu Dr. Adi Sasongko, MA, Ketua Dewan Pengawas YKIS, hadir pula perwakilan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) dari Papua, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat. Beberapa persoalan yang memerlukan perhatian mendesak antara lain adalah keberlanjutan dan perbaikan akses pengobatan (obat Hepatitis C dan ARV – terutama pediatrik), informasi dan edukasi kesehatan seksual dan hak reproduksi remaja, dukungan keluarga dan komunitas bagi kelompok kunci, peningkatan kapasitas lembaga, serta advokasi (kepemimpinan daerah, komitmen politik, dan keterlibatan akademisi/peneliti). Disepakati bersama bahwa kemitraan berbagai stakeholders perlu terus diperkuat untuk keberhasilan penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia.

Jakarta, 15 Mei 2018

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *